"Mana ada sekarang uang jajan hanya Rp1000 aja",celetuk seorang anak yang masih mencoba mengais rezeki dimalam yang sudah cukup larut untuk ukuran seusianya.
"o ya,memang kamu jajannya berapa sehari",tanya saya pada dua orang anak yang masih belia itu.
"Bu,adik saya saja yang sebesar ini(sambil menunjuk anak bungsuku yang belum genap lima tahun)setiap harinya jajan sampai Rp 5000,terus saya Rp15000 sampai Rp20000.Masak orang sekaya ibu ngasih jajan anak hanya RP1000,mana mungkin bu",cerocos anak itu sambil mendesak saya untuk memberinya sekedar uang.
"Wow ternyata kamu kebalik ya,yang kaya itu kamu dik.Ibu lihat kamu pintar pasti kamu sudah pintar menghitungkan?coba kamu hitung bila kamu jajan Rp15000 saja tiap harinya,berapa uang jajan kamu setiap bulannya.kalikan 30 hari terus kalikan 12?",tanya saya.
Dan anak itu mulai menghitungnya dengan temannya yang lain.Saya lihat para penikmat ketoprak dimana saya dan para anak lelaki saya malam minggu itu juga menikmati sajian pangan khas Jakarta yang kebetulan menjadi salah satu tujuan makan diluar favorit yang sering kami lakukan bersam sama di waktu libur ikut menikmati percakapan saya dengan anak anak itu.
"Empat ratus lima puluh ribu per bulan bu,kalau dikali dua belas wah pasti jutaan bu.banyak sekali ya?",kali ini terlihat dia terkejut dengan hasil perkaliaannya.
"Apa kata ibu,yang kaya itu kamu.Empat ratus lima puluh ribu per bulan untuk uang jajan belum lagi jajan saudara kamu yang lain pasti lebih banyak daripada ibu yang kasih uang jajan anak ibu dua orang ini(sambil saya menunjuk ke sisulung dan sitengah yang dari tadi terkagum kagum dan terkaget kaget dengan jumlah uang jajan anak anak yang sering disebut anjal itu)per orang tiga puluh ribu rupiah atau Rp 1000 per hari",jelas saya sambil menahan tawa ketika anak itu komentar lagi keteman yang satunya lagi "Wah ternyata kita banyak uang ya,setiap tahun aja kita sudah bisa jajan sampai jutaan".
Sebenarnya kalimat"Hari gini jajan cuma seribu,dapet apa?"itu sering saya dengar dari orang,kenalan,sahabat,tetangga bahkan dari pihak keluarga besar kami.
Tapi itulah yang telah saya terapkan untuk dua jagoan saya.sedangkan jagoan yang terkecil baru tahun ini saya beri jatah sepuluh ribu tiap bulannya.
Apakah dengan uang jajan yang hanya segitu para jagoan itu berkecil hati?
Tidak
Walau hanya Rp 1000/perhari atau Rp30000/bulan ternyata para jagoan saya punya tabungan yang cukup banyak untuk anak seusianya.Kata digit yang dipakai sudah jutaan.
Bahkan tabungan mereka bisa menjadi pinjaman lunak dikala keuangan saya mengalami titik terendah.
Saya mengenalkan istilah uang bulanan kepada anak anak ketika mereka mulai memasuki dunia pendidikan non wajib belajar alias taman kanak kanak.
Dulu pertama saya memberinya hanya Rp5000/bulan.Sekarang sisulung sudah SMP dan sitengah sudah diakhir SD.
Lalu saya menghadiahkan sebuah dompet khusus untuk anak seusianya.Jadi mereka bisa berproses melihat perbedaan isi dompetnya sesuai dengan kebiasaan mereka dalam menggunakan jatahnya.
Untuk sisulung yang kebetulan tidak suka makan makanan yang bukan mamanya buat dan tidak buru buru dalam mengambil keputusan membeli sesuatu yang diinginkan aturan yang saya terapkan tidak menjadi masalah.Tetapi......
Untuk sitengah yang punya karakter jika ingin sesuatu harus dapat dan suka sekali berperan sebagai pembeli saja(sepertinya ia bangga sekali bisa seperti orang dewasa yang berbelanja tanpa melihat itu penting atau tidak yang penting berani beli)maka prosesnya agak berbeda dengan abangnya.
Jadi setiap sitengah yang dengan bahagianya telah berhasil membeli sesuatu,kami sudah menduga sebentar lagi akan ada tangisan bombaynya karena isi dompetnya yang sedikit daripada abangnya.
"Biarkan bintang itu menangis" menjadi inspirasi saya kuat menghadapi sitengah.Dia harus melewati proses ini agar kelak bisa bersinar terang dilangit.
Seiring bertambah usianya ia mulai mendalami kenikmatan mengendalikan kemauan diri.
Sumber keuangan anak anak bukan hanya dari uang jatah bulanan tetapi dari
*pemberian kakek,nenek,bude,pakde,om,tante;
*bonus bila berpuasa;
*hadiah: bila mendapat juara,nilai diatas sembilan keatas,menghapal English vocab
khatam al qur'an dll
*menjual copyan CD atau merentalkan CD gamenya dengan teman temannya.
(Baru tahu mental bisnisnya mulai jalan ditengah jatah bulanan yang tipis)
Tetapi sebanding dengan hadiah nilai diatas sembilan yang Rp50000/mata pelajaran maka mereka diharuskan bayar denda Rp5000/matapelajaran yang bernilai enam.
"Kak,ini kopiah dan buku juz ama siapa?sepertinya masih baru?",tanya saya pada sitengah.
"Punya kakaklah ma,kakak yang beli.Kebetulan kakak ngga punya peci untuk sholad terus juz amanya sudah rusak.padahal kakak kan harus sering menghafal surat ma",jawab sitengah.
Oh..ada rasa sejuk mengalir didada ini setiap sisulung dan sitengah mengeluarkan jatahnya sendiri untuk membeli mainan,hobbynya,menfotokopi soal dari guru,membayar infak disekolah atau menyumbang ketika ada teman yang terkena musibah disekolah dan untuk itu mereka sering bermandi peluh berjalan 3km pulang kerumah karena menggunakan uang bayar angkot.
Dan mereka tidak pernah meminta ganti untuk itu semua.
"kak,uang kembalian belanjanya yang lima ratus untuk kakak aja",ucap saya untuk mengganti lelahnya membantu saya membelikan sesuatu ditoko depan komplek.
"Benar ma? arigatou ya ma",balas sitengah dengan gembiranya.
Alhamdulillah terima kasih Ya Robbi,karena Engkau telah menghujani anak anaku dengan rasa syukur yang berlimpah,amien....
Mamanya 3adnan
0 komentar:
Post a Comment